RSS

Bung Karno dan Toilet

08 Apr

ranjang lipat dan kasur serta toilet duduk di bekas kamar bung karno

Tempat tidur merangkap tempat istirahat hanya dilapisi sehelai tikar daun pandan yang dilengkapi bantal kapuk yang sudah tipis, kain selimut, tempat minum yang terbuat dari seng, dan kaleng untuk menampung air kencing. Mereka secara sengaja ditempatkan di sel yang menghadap ke barat sehingga pada petang hari udara di dalam sel terasa lebih panas.

Itulah kondisi sel Bung Karno yang berukuran sekitar 2,5 meter X 1,5 meter. Di dinding sel hanya terpasang bendera merah putih berukuran besar . Mengutip sejarawan asing, Bernhard Dahm seperti ditulis Her Suganda di Harian Kompas, Kamis, 1 April 2010 Soekarno, yang sejak belajar di Technische Hogeschool/TH (kini Institut Teknologi Bandung/ITB), menempati sel tanpa memiliki fasilitas apa-apa.

Makan malam pertamanya berupa nasi rames yang dipesan dari warung Mang Madrawi yang berjualan di dekat Masjid Agung. Selama dua bulan pertama, ia dilarang menerima kunjungan tamu, kecuali istrinya Inggit Ganarsih atau keluarga terdekat. Kunjungan hanya boleh dilakukan hari Selasa dan Jumat pada pukul 14.00-16.00. Baru pada bulan ketiga, pengawasannya lebih leluasa. Ia dibolehkan membaca buku-buku, kecuali buku politik.

Pengetahuannya tentang dunia luar diketahui dengan membaca beberapa surat kabar yang diterimanya secara berantai. Surat kabar AID dan Preangerbode dikirim oleh Bos, sipir penjara yang bersimpati pada perjuangan Bung Karno. Surat kabar Sin Po dikirim oleh sesama penghuni penjara bernama Boen Kim Sioe. Seorang sipir lainnya, mantan Sersan KNIL Sariko, secara periodik mengirim surat kabar berbahasa Sunda, Sipatahunan.
Sejarawan Peter Kasenda menjelaskan penahanan Soekarno bersama rekannya Gatot Mangkoepradja , Maskoen Somadiredja dan Soepriadinata oleh Pemerintah Belanda akibat aktivitas politik di Partai Nasional Indonesia,PNI. “Soekarno ingin melebarkan sayap PNI ke Jawa Tengah. Ketika Soekarno akan ke Yogya 29 Desember 1929 dia ditangkap. Kemudian dia ditahan di Bandung,”papar peneliti sejarah yang baru meluncurkan buku, Soekarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933 tersebut.

Menurut Peter Kasenda fasilitas “berlebih” yang diberikan sipir kepada Soekarno dalam tahanan tidak lepas dari praktek suap saat itu. “Karena suka memberi (suap) seketip, dua ketip kepada sipir, Soekarno diberi kebebasan membaca di ruang perpustakaan (penjara).”

Dari balik sel pengap tersebut, Soekarno, yang saat itu baru berusia 29 tahun, dengan cemerlang menyusun pledoi atau pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Menggugat (Indonesie Klaagt Aan). “Soekarno menulis buku Indonesia Menggugat itu di atas dudukan toilet (sel),” jelas Peter Kasenda. Bung Karno mengibaratkan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan ungkapan: “Bahwasanya, matahari bukan terbit karena ayam jantan berkokok, akan tetapi ayam jantan berkokok karena matahari terbit!”

 

sumber: Komunitas Bambu

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2011 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: