RSS

Membaca Itu Ibadah

12 Apr

Menurut temuan UNDP tahun 2004, Human Development Index (HDI) kita berada pada peringkat ke 112 dari 175 negara jauh ketinggalan dari negara tetangga seperti Singapura (28), Brunei Darussalam (31), Malaysia (58), Thailand (74), Filipina (85), dan Vietnam (109). Ini menunjukkan bahwa standar hidup dan kualitas hidup bangsa Indonesia masih sangat rendah. Hal ini berdampak pula pada tingkat budaya masyarakatnya termasuk budaya membaca. Kenyataan ini memperlihatkan adanya kompleksitas persoalan yang menyelimuti bangsa Indonesia. Rendahnya kualitas hidup bangsa Indonesia salah satunya karena pengetahuan masyarakat masih rendah. Pengetahuan masyarakat rendah karena budaya membaca masyarakat rendah. Budaya membaca masyarakat rendah karena standar hidupnya rendah.
Begitulah lingkaran setan problem kebangsaan kita saat ini. Untuk keluar dari lingkaran masalah ini diperlukan keterlibatan semua pihak untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan tersebut. Kalau kita kembali berkaca pada negara-negara maju, sesungguhnya membaca menjadi prasyarat mutlak untuk mencapai kemajuan. Dengan membaca berarti kita sedang berproses menuju satu kemajuan. Membangun budaya baca, bukan sekadar menyediakan buku atau ruang baca, tetapi juga membangun pemikiran, perilaku, dan budaya dari generasi yang tidak suka membaca menjadi generasi suka membaca. Dari generasi yang asing dengan buku menjadi generasi pencinta buku. Dan dari sana kreativitas dan transfer pengetahuan bisa berlangsung dan berkembang.
Masyarakat Indonesia belum menempatkan buku sebagai kebutuhan setelah sandang, pangan, dan papan. Masyarakat masih dalam budaya melihat dan mendengar, bukan budaya membaca. Di sinilah diperlukan dorongan baik berupa kebijakan maupun nilai-nilai yang mendorong tumbuhnya minat baca.
Agama sesungguhnya memiliki peran penting bagi tumbuhnya budaya membaca. Sebagai bangsa yang dikenal religius, seharusnya budaya membaca menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya masyarakat kita. Apalagi agama sendiri memerintahkan umatnya untuk selalu membaca. Di dalam Islam sangat jelas bahwa membaca menjadi perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
Sungguh sebuah ironi dalam masyarakat yang mayoritas muslim ini, budaya membaca masih jauh dari harapan. Ini membuktikan bahwa agama masih dipahami sebatas ajaran, belum menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku dan aktivitas hidup kita. Padahal dari membaca itulah peradaban Islam pernah mencapai puncaknya dengan munculnya filosof dan tokoh muslim yang sampai saat ini memiliki pengaruh yang luas. Franz Rosenthal, seorang orientalis terkemuka, mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban tulis. Penerjemahan besar-besaran dari karya-karya, terutama berbahasa Yunani dan perpustakaan yang didirikan menjadi penyangga peradaban Islam.
Begitu pun dengan agama lain. Keberadaan kitab suci yang dimiliki oleh masing-masing agama menjadi bukti historis bahwa umat beragama harus bisa dan selalu membaca. Walaupun perkembangan teknologi informasi begitu pesat, buku tetap menjadi media yang tak terkalahkan. Kemajuan sebuah bangsa bukan berasal dari melihat atau mendengarkan, tapi dari membaca catatan-catatan, literatur, dan berkas-berkas tertulis. Nicholas Negroponte, profesor Teknologi Media di Massachussets Institute of Technology, menyatakan bahwa membaca buku atau tulisan bisa membangkitkan imajinasi-imajinasi dan metafor-metafor yang menggugah kreativitas yang tidak bisa didapatkan dari menonton televisi atau mendengarkan musik.
Karena begitu pentingnya budaya membaca bagi kemajuan bangsa di satu sisi dan karena kompleksitas persoalan yang melingkupi budaya membaca di sisi yang lain, maka sudah saatnya semua kalangan baik pemerintah, agamawan, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia perbukuan memberikan kepedulian yang lebih bagi tumbuhnya budaya membaca. Pendirian taman-taman bacaan di berbagai tempat, penerjemahan buku-buku asing yang bermutu, penyediaan buku-buku murah dan terjangkau, serta keteladanan tokoh masyarakat dalam membaca dan menulis buku-buku merupakan langkah strategis bagi pemberdayaan budaya baca masyarakat.

Sumber: Penulis –> A.M. Fatwa dari Yayasan AdiCitra Karya Nusa

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2011 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: