RSS

Taman Bacaan Cakrawala

Seorang siswi kelas 2 sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Pekalongan menemui saya usai seminar yang diselenggarakan di sekolahnya itu. Gadis itu menyampaikan keinginannya untuk memiliki usaha yang bisa ia jalankan sambil sekolah.

Hampir satu jam kami berbicara. Ia menceritakan banyak hal tentang kondisi keluarganya, sekolah dan keinginannya untuk memiliki penghasilan tambahan agar bisa membantu orangtuanya. Ia ingin melakukan usaha apa saja yang penting bisa dilakukan sambil sekolah. Ia juga menyatakan sangat tertarik dengan dunia tulis-menulis seperti yang saya singung dalam seminar tersebut. Gadis yang akhirnya saya ketahui bernama Ziah itu mengatakan kalau punya hobi membaca buku, meskipun tidak memiliki banyak buku.

Setelah berbicara cukup lama, akhirnya diskusi itu kami tutup dengan kesimpulan, ia akan memulai dengan sewa-menyewakan buku, atau semacam perpusatakkan keliling. Caranya, buku-buku itu akan dibawa ke sekolah dan ditawarkan ke teman-teman, guru dan orang lain yang mau meminjam. Setiap buku dikenakan uang sewa antar 500-2000 rupiah tergantung tebal-tipisnya buku. Modalnya dari mana? Uang tabungan yang Ziah miliki sebesar Rp.40.000,- itu akan digunakan untuk membeli beberapa buku novel remaja. Saat itu kebetulan ada pameran buku di kota kami.

Berikutnya uang tersebut bisa digunakan untuk membeli 4 buah buku. Setelah ditawarkan ke teman-temannya ternyata mereka sangat berminat. Seminggu kemudian ia bisa membeli sebuah buku lagi, dua meninggu selanjutnya ia beli 2 buku, minggu berikutnya ia beli 3 buku dan begitu seterusnya. Sampai bulan ke 4 ia sudah memiliki puluhan buku. Dia juga menerima sumbangan buku-buku dari simpatisan dan konsumen peminjam bukunya.

Ziah (kemudian menjalankan usahanya bersama sahabtnya Mila) bisa mengumpulkan uang sewa sampai Rp.60.000,- setiap bulannya. Selain untuk membeli buku lagi, sebagiannya ia gunakan untuk menambah uang saku atau memenuhi kebutuhan sekolahnya. Ia punya obsesi untuk mendirikan sebuah taman baca yang ia beri nama ‘Taman Baca Cakrawala’.

Sebuah rumah tua di sudut kota sedang dipersiapkan untuk dijadikan taman bacaan tersebut. Menurutnya dalam 1-2 bulan ke depan sambil mencari-cari tambahan buku-buku ia akan me-launching  taman baca tersebut. Sebuah usaha mulia yang patut kita dukung.

Membaca masih belum menjadi budaya bagi masyarakat kita. Realitas budaya baca di Indonesia yang masih kelabu ini, hendaknya menggugah dan memacu setiap lembaga pendidikan dan perpustakaan dengan segenap stake holder – termasuk media massa dan para pencinta bacaan – untuk secara sukarela berpartisipasi, bahkan proaktif memberikan sumbangsih mereka demi menumbuh kembangkan minat baca masyarakat.

Rendahnya minat baca masyarakat secara nasional disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari rendahnya produktivitas pengarang buku, minimnya penerbit yang mampu memproduksi buku-buku bermutu, kecilnya honorarium pengarang buku, sampai ke mahalnya harga buku.

Catatan dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menyebutkan, selain masalah kualitas buku, dari segi produktivitas pengarang umum di luar buku pelajaran saja, sudah menurun drastis sejak 5 tahun terakhir. Tahun 1999, para pengarang kita mampu memproduksi 9.000 judul buku, kini cuma sekitar 6.000 judul buku setiap tahun.  Bandingkan dengan Malaysia (lebih 15.000 judul buku), Jepang (60.000 judul) dan Inggris (110.155 judul) setiap tahun.

Rendahnya minat baca di negara kita pada dasarnya lebih disebabkan faktor internal dibanding faktor eksternal dari tiap individu warga masyarakat. Faktor eksternal (harga buku, mutu buku, lingkungan keluarga, dan sebagainya) jelas berpengaruh, tetapi pengaruh faktor internal lebih dominan. Faktor internal tersebut ialah masih rendahnya motivasi bangsa ini dalam membaca.

Padahal selain merupakan sumber inspirasi, menambah wawasan, menjadi sarana belajar otodidak, membaca juga bagian dari ibadah. Bukankah Allah yang memerintahkan langsung kepada kita untuk gemar membaca? Sehingga ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah adalah perinta membaca.

Para tokoh seperti Bung Karno, Bung Hatta, Hamka dan yang sekaliber dengan mereka lainnya, tak diragukan lagi komitmennya dalam mencintai dunia bacaan. Tak heran, dalam Bung Karno antusias berwasiat kepada generasi muda kita : “Pemuda harus membaca dan terus membaca. “Filosof Prancis, Ralp Waldo Emerson, dengan tegas menyatakan : Mereka yang banyak membaca adalah mereka yang menemukan sukses dan bahagia.”

Oleh karena itu marilah kita -terutama para orang tua- harus lebih dulu memiliki kegemaran membaca, agar ajakan yang luhur dan mulia ini bisa berpengaruh efektif terutama kepada anak-anak di rumah. Bukankah tak sedikit orang-orang yang sukses dan jadi orang besar berasal dari keluarga cinta baca ? Setiap orang tua perlu mengapresiasi budaya baca dengan memberikan suri tauladan bagi keluarganya.

Sebuah langlah yang dimulai oleh Ziah dan teman-temannya, mungkin belum seberapa, namun kita berharap ini akan menjadi bola salju untuk menggairahkan minat baca. Bahkan Ziah memiliki banyak manfaat sekaligus, menumbuhkan minat baca, mendapatkan ilmu dari buku yang dibaca dan juga memiliki penghasilan tambahan. Mau mencoba?

Sumber: Jumadi Subur

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 12, 2011 in Artikel

 

5 Mitos Menulis

Paling tidak ada lima mitos tentang dunia tulis-menulis yang masih dipercayai oleh sebagian masyarakat kita. Sebagai sebuah mitos, maka ia lebih sebagai kepercayaan yang sudah kedaluwarsa dan kadang-kadang tidak rasional. Kalau kepercayaan ini dipegang, maka dia akan menjadi penghambat bagi mereka yang ingin mengembangkan diri menjadi penulis sukses. Karena adanya mitos itu, menulis menjadi pekerjaan yang aneh dan langka sehingga tak layak digeluti.

Mitos-mitos dimaksud antara lain menyatakan bahwa menulis :

1. Hanya untuk mereka yang berpendidikan tinggi. Menulis/mengarang dipandang oleh masyarakat hanya pantas untuk kaum terpelajar yang berpendidikan tinggi. Cuma mereka, yang karena ilmunya yang sudah ‘tinggi’, bisa mengarang.

Sebenarnya, siapa pun bisa menulis, asal dia tahu ‘membaca dan menulis’ sebagai persyaratan dasarnya. Kalau kemudian ia mampu mengarang, itu karena ia mengasah diri dan rajin belajar. Memang lebih baik kalau para penulis berlatarbelakang pendidikan tinggi, tapi ‘tidak hanya untuk’ mereka pekerjaan ini.

2. Hanya untuk orang dewasa. Hingga kini masih ada pemikiran yang menganggap bahwa aktivitas mengarang hanya bagi mereka yang sudah dewasa atau tua usianya. Anak-anak/remaja dipandang masih belum mampu menjalani kegiatan mengarang karena masih bau kencur.

Tentu saja mitos ini kini terbantahkan, karena banyak anak-anak/remaja yang mengarang, seperti mengarang puisi, cerpen, dan teenlit lainnya. Lihat saja majalah/tabloid remaja yang beredar, maka kita akan tahu siapa penulis-penulisnya.

3. Hanya untuk orang yang berbakat. Hanya mereka yang berbakat menulis sajalah yang berhasil menjadi penulis. Sedangkan, mereka yang tidak berbakat tidak akan pernah berhasil menjadi pengarang. Oleh karena itu, percumalah bagi mereka yang tidak punya bakat untuk mencoba menulis, pasti akan gagal!

Perlu dipertanyakan, bagaimana orang seperti ini memaknai bakat. Bukankah keberhasilan itu lebih ditentukan oleh usaha dan kerja keras dan cerdas, bukan semata-mata bakat? Hanya mereka yang sudah lama dan dengan keras mengasah diri di suatu bidang dan terbukti berhasil saja yang disebut berbakat? Oleh karena itu, jangan terlalu percaya pada bakat bawaan. Lebih baik kita berlatih dengan intens, kelak pasti muncul hasilnya. Ini berlaku untuk siapa saja yang ingin mengembangkan diri di dunia tulis-menulis.

4. Pekerjaan yang sepi. Pekerjaan mengarang itu hanya untuk orang-orang yang tahan menyepi sendiri hampir sepanjang hari. Mereka selalu mencari tempat-tempat tertentu untuk menyepi sendiri dan menulis.

Mungkin, iya pada tempo dulu, tapi di era modern ini tidak. Kita bisa menulis di tempat di manapun kita berada, tidak harus datang ke hutan atau ke gunung-gunung untuk merenung dan kemudian menulis. Di tengah-tengah keramaian Jakarta, di tengah kemacetan, di terminal bis, di rumah, di kantor, dan di tempat lainnya, kita bisa menulis jika mau. Tak ada penghambat yang berarti kalau kita mau fokus menulis.

5. Hanya cocok bagi mereka yang siap hidup miskin. Dasar pandangannya, penulis itu seorang idealis. Untuk mempertahankan idealismenya itu ia siap menuliskan pemikirannya tanpa minta bayaran. Ia tak mempedulikan uang dan siap hidup susah.

Benarkah seperti itu? Kalau harus hidup miskin, siapa juga yang mau menjadi penulis. Bukankah honor para penulis freelance dan kolumnis sudah relatif lebih baik belakangan ini? Seorang penulis bahkan dapat mengembangkan profesinya menjadi penulis buku yang produktif, menjadi editor sebuah koran/majalah, penceramah/pengajar yang mengajar menulis, menjadi co-writer, dan pekerjaan lainnya yang berkaitan dengan aktivitas menulis sehingga dengan begitu ia tidak perlu harus miskin.

Kelima mitos itu sudah seharusnya dipertimbangkan untuk di-delete dari pemikiran masyarakat, terlebih-lebih dari kamus pemikiran mereka yang berniat menjadi penulis. Mitos seperti ini hanya akan menjadi batu sandungan. Lempar saja ke luar dari rumah pikiran kita, sebelum ia membuat kita terjerembab jatuh dalam ketidakberdayaan.

Sumber: I Ketut Suweca

 
Leave a comment

Posted by on May 7, 2011 in Artikel

 

Toko Buku Asyik di Bandung

Di mana sih toko2 buku asyik di Bandung? Here they are:

1. Tobucil
Bagi kami, Toko Buku Kecil yang disingkat Tobucil ini adalah pelopor toko buku alternatif di Bandung. Dahulu Tobucil mengusung moto Support Your Local Literacy Movement. Untuk mendukung semangatnya, Tobucil bikin beberapa Klab. Semacam komunitas kecil yang berkumpul di hari tertentu dan membahas tema dari Klab tersebut. Ada Klab Nulis, Klab Baca, Klab Desain, Klab Klasik, Klab Jazz, dll. Itu dulu, sekarang kegiatan literasinya ditambah dengan dengan kegiatan kreatif lain yang khas, yaitu hasta karya. Semacam Klab Rajut, klab ini khusus membuat sesuatu yang dibuat secara manual, alias hand-made.

Tobucil ini cocok deh sama namanya, tokonya kecil mungil. Meski kecil, semangat Tobucil besar sekali dan sering jadi tempat bagi banyak orang berinteraksi satu sama lain dalam kegiatan-kegiatannya.

Lihat Tobucil dan kegiatan di http://tobucil.blogspot.com/
Tobucil ada di Jl. Aceh no. 56 Bandung 40113

Buka – Tutup : 08.00 – 20.00


2. Roemah Buku

Ini dia satu toko buku favorit kami berikutnya. Roemah Buku! Kalau kesini benar-benar serasa di rumah. Seperti rumah kita sendiri tapi bayangkan ruang tamu dan ruang kita nonton tivi dan berkumpul bersama keluarga dijadikan sebagai toko buku. Ada sedikit rak besar yang berdiri menampung secara rapi buku-buku dengan berbagai tema dan judul. Ada beberapa pasang sofa yang diletakkan diantara rak buku tersebut, sofanya empuk pula. Lalu ada meja yang bentuknya memanjang dengan kursi-kursi yang mengisi meja tersebut. Satu meja yang berhias botol-botol unik di bagian tengahnya itu bisa digunakan untuk 12 orang. Oiya, lampu penerangnya menyatu dengan ruangan, super nyaman. Wuih asyik! Ssst, buat foto-foto juga keren nih tempatnya!

Selain buku, Roemah Buku secara khusus menempatkan dirinya sebagai Movie Lovers. Ada banyak koleksi film yang bisa disewa bahkan ditonton langsung di Roemah Buku. Mereka menyediakan satu ruangan khusus untuk yang mau nonton film. Film koleksi Roemah Buku koleksi filmnya aneh-aneh deh, jarang ada di pasaran bahkan di biiskop sekalipun.
Dalam waktu tertentu mereka juga mengadakan acara berupa screening movie.

Lihat Roemah Buku dan kegiatan mereka di http://zine.rukukineruku.com/
Jl. Hegarmanah 52
Bandung, 40141
Indonesia

Jam Buka:
Senin-Sabtu 10:00 – 20:00
Minggu 10:00 – 17:00


3. Zoe Corner

Ini dia tempat baca buku paling asyik lainnya. Zoe Corner! Sebenarnya tempat ini adalah tempat sewa buku. Standar alias sama dengan penyewaan buku lainnya. Namun ada yang beda di Zoe.

Pertama, koleksi bukunya super lengkap. Mulai dari komik sampai novel ada. Majalah amak-anak sampai majalah orang dewasa tersedia. Makanya kalau masuk ke dalam Zoe coba dipikir dahulu sebelumnya ingin meminjam buku apa, karena saking banyaknya kadang-kadang jadi suka bingung mau pinjam apa. Habisnya mau dibaca semua sih!

Kedua, ada tempat buat baca buku. Ini nih yang asyik. Teras Zoe jadi tempat untuk orang-orang yang ingin membaca buku. Ada banyak pasang kursi yang diletakkan disana, plus dengan mejanya. Dominasi warna merah jadi ciri khas Zoe Corner. Kursi dan mejanya, warna merah semua. Mereka juga menyediakan satu ruangan khusus di lantai 2. Bentuk ruangannya memanjang, seperti lorong, tapi lebar lorongnya lebar sekali, sekitar dua – tiga meter. Ruangan ini menyatu dengan kantor, tempat sholat, dan kamar mandi. Disini kita bisa lesehan baca bukunya.

Ketiga, ada cafe. Lagi asyik baca buku terus kelaparan atau haus? hmmm itu biasa. Di Zoe kita tidak perlu beranjak ke tempat lain. Disini ada cafenya jadi bisa langsung pesan. Harganya terjangkau. Favorit kami adalah nasi goreng Zoe dan roti bakar keju. Hmmm… oiya, jangan lupa pesan Big Iced Tea! karena ukuran gelasnya super jumbo! Slurp…

Keempat, mau baca buku disini tidak perlu daftar jadi anggotanya dulu kok. Resikonya, tidak bisa menyewa buku dan harga membaca lebih mahal dibanding kalau kita anggota. Jadi untuk kemudahan, daftar saja dulu. Bayarnya setahun 30.000 dan bawa pas foto & fotokopi kartu identitas.

Zoe Corner (Belakang BCA Dago, depannya Cafe Victoria)
Jl. Pager Gunung no. 3 Bandung

Jam Buka:
10.00 – 22.00

4. Reading Lights
Membaca Cahaya atau cahaya yang mencerahkan. Begitulah Reading Light. Menempati bangunan di pojok jalan, RL jadi favorit banyak orang yang mencari buku-buku berbahasa inggris. Yak! ini yang jadi ciri khas RL, buku-bukunya buku impor! Ada buku tentang perjalanan, self improvment, novel, buku-buku How To, sampai komik-komik lucu dan komik serius.

RL terdiri dari dua lantai dan satu ruangan di belakangnya. Mirip dengan Zoe Corner, RL menyediakan kursi-kursi dan meja untuk para pengunjung. Ada satu sofa besar yang diletakkan di bagian depan dekat dengan jendela besar. Mirip etalase.

Mau baca atau internetan sambil ngemil, tinggal ambil buku menunya dan segera pesan. Percayalah, makanan minuman di RL super yummy! Makanannya juga jenis makanan western. Serba keju  deh pokoknya.

Kegiatan lain selain buku, ada pula nonton bareng dan klub merajut. RL menyediakan juga benang-benangnya yang warnanya lucu-lucu.

Reading Light ada di http://readinglights.blogspot.com/
Jl. Siliwangi 16 (dekat Ciumbuleuit)
Bandung 40141

Sumber: http://www.mahanagari.com

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2011 in Uncategorized

 

Habis Gelap Terbitlah Terang!

Menjelang hari Kartini, penulis sharing informasi sedikit tentang buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya RA Kartini ini, cekidot
Door Duisternis tot Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.
Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.
Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.
Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.
Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.
Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.
Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.
Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.
Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.
Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.
Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.
Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.
Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2011 in Uncategorized

 

Membaca Itu Ibadah

Menurut temuan UNDP tahun 2004, Human Development Index (HDI) kita berada pada peringkat ke 112 dari 175 negara jauh ketinggalan dari negara tetangga seperti Singapura (28), Brunei Darussalam (31), Malaysia (58), Thailand (74), Filipina (85), dan Vietnam (109). Ini menunjukkan bahwa standar hidup dan kualitas hidup bangsa Indonesia masih sangat rendah. Hal ini berdampak pula pada tingkat budaya masyarakatnya termasuk budaya membaca. Kenyataan ini memperlihatkan adanya kompleksitas persoalan yang menyelimuti bangsa Indonesia. Rendahnya kualitas hidup bangsa Indonesia salah satunya karena pengetahuan masyarakat masih rendah. Pengetahuan masyarakat rendah karena budaya membaca masyarakat rendah. Budaya membaca masyarakat rendah karena standar hidupnya rendah.
Begitulah lingkaran setan problem kebangsaan kita saat ini. Untuk keluar dari lingkaran masalah ini diperlukan keterlibatan semua pihak untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan tersebut. Kalau kita kembali berkaca pada negara-negara maju, sesungguhnya membaca menjadi prasyarat mutlak untuk mencapai kemajuan. Dengan membaca berarti kita sedang berproses menuju satu kemajuan. Membangun budaya baca, bukan sekadar menyediakan buku atau ruang baca, tetapi juga membangun pemikiran, perilaku, dan budaya dari generasi yang tidak suka membaca menjadi generasi suka membaca. Dari generasi yang asing dengan buku menjadi generasi pencinta buku. Dan dari sana kreativitas dan transfer pengetahuan bisa berlangsung dan berkembang.
Masyarakat Indonesia belum menempatkan buku sebagai kebutuhan setelah sandang, pangan, dan papan. Masyarakat masih dalam budaya melihat dan mendengar, bukan budaya membaca. Di sinilah diperlukan dorongan baik berupa kebijakan maupun nilai-nilai yang mendorong tumbuhnya minat baca.
Agama sesungguhnya memiliki peran penting bagi tumbuhnya budaya membaca. Sebagai bangsa yang dikenal religius, seharusnya budaya membaca menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya masyarakat kita. Apalagi agama sendiri memerintahkan umatnya untuk selalu membaca. Di dalam Islam sangat jelas bahwa membaca menjadi perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
Sungguh sebuah ironi dalam masyarakat yang mayoritas muslim ini, budaya membaca masih jauh dari harapan. Ini membuktikan bahwa agama masih dipahami sebatas ajaran, belum menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku dan aktivitas hidup kita. Padahal dari membaca itulah peradaban Islam pernah mencapai puncaknya dengan munculnya filosof dan tokoh muslim yang sampai saat ini memiliki pengaruh yang luas. Franz Rosenthal, seorang orientalis terkemuka, mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban tulis. Penerjemahan besar-besaran dari karya-karya, terutama berbahasa Yunani dan perpustakaan yang didirikan menjadi penyangga peradaban Islam.
Begitu pun dengan agama lain. Keberadaan kitab suci yang dimiliki oleh masing-masing agama menjadi bukti historis bahwa umat beragama harus bisa dan selalu membaca. Walaupun perkembangan teknologi informasi begitu pesat, buku tetap menjadi media yang tak terkalahkan. Kemajuan sebuah bangsa bukan berasal dari melihat atau mendengarkan, tapi dari membaca catatan-catatan, literatur, dan berkas-berkas tertulis. Nicholas Negroponte, profesor Teknologi Media di Massachussets Institute of Technology, menyatakan bahwa membaca buku atau tulisan bisa membangkitkan imajinasi-imajinasi dan metafor-metafor yang menggugah kreativitas yang tidak bisa didapatkan dari menonton televisi atau mendengarkan musik.
Karena begitu pentingnya budaya membaca bagi kemajuan bangsa di satu sisi dan karena kompleksitas persoalan yang melingkupi budaya membaca di sisi yang lain, maka sudah saatnya semua kalangan baik pemerintah, agamawan, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia perbukuan memberikan kepedulian yang lebih bagi tumbuhnya budaya membaca. Pendirian taman-taman bacaan di berbagai tempat, penerjemahan buku-buku asing yang bermutu, penyediaan buku-buku murah dan terjangkau, serta keteladanan tokoh masyarakat dalam membaca dan menulis buku-buku merupakan langkah strategis bagi pemberdayaan budaya baca masyarakat.

Sumber: Penulis –> A.M. Fatwa dari Yayasan AdiCitra Karya Nusa

 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2011 in Artikel

 

Manfaat Membaca

Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan membaca. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
  2. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam jurang kebodohan.
  3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
  4. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
  5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
  6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
  7. Dengan membaca, orang dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain; kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
  8. Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam kehidupan.
  9. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
  10. Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model dan tipe kalimat. Lebih lanjut lagi, ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan memahami apa yang tertulis “di antara baris dengan baris” (memahami makna yang tersirat).

Sumber: Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni, dalam bukunya, “Laa Tahzan”

 
Leave a comment

Posted by on April 11, 2011 in Artikel

 

Founding Father tidak rakus membaca dan menulis?

Apa kata dunia? Indonesia tidak akan pernah ada bila hal itu terjadi.

Bung Hatta membaca koran

Ada lebih banyak harta yang terkandung di dalam buku ketimbang seluruh jarahan bajak laut yang disimpan di pulau harta karun Walt Disney. Para founding father negeri ini secara tersirat telah membangun budaya literer bagi negeri ini. Hal ini dapat kita lihat pada model perjuangan mereka pasca kebijakan politik etis oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1899, yang salah satunya adalah memberi kesempatan bagi anak – anak pribumi untuk mengenyam pendidikan (edukasi). Model perjuangan bersenjata sebelumnya yang kurang efektif, diganti dengan perjuangan intelektual, salah satunya dengan menggunakan pena atau tulisan. Melalui goresan pena, mereka menyadarkan rakyat pribumi Indonesia (Hindia Belanda) bahwa sebenarnya bangsa ini berada dalam keadaan terjajah, dengan demikian mereka harus bangkit melawan pemerintah Hindia Belanda demi meraih kemerdekaan dari Sabang sampai Merauke. Perlawanan melalui tulisan itu diawali dengan berdirinya Medan Prijaji, surat kabar pertama yang dikelola kaum bumi putera yang dipimpin RM Tirtoadisuryo pada tahun 1903 yang menampilkan kalimat berani dan propagandis di bawah nama korannya: Orgaan Bagi Bangsa Jang Terperintah di Hindia Belanda Tempat Membuka Suaranja. Koran ini menginspirasi tokoh – tokoh pelopor awal seperti HOS Cokroaminoto untuk mendirikan Oetoesan Hindia. Tokoh-tokoh nasionalis seperti Ki Hajar Dewantara menerbitkan koran – koran yang namanya cukup revolusioner, yakni, Guntur Bergerak dan Hindia Bergerak. Sukarno mendirikan Suara Rakyat Indonesia dan Sinar Merdeka pada tahun 1926. Sementara Semaun dari pihak sosialis pun tidak ketinggalan, menerbitkan koran dengan nama yang lebih sangar lagi yakni Api, Halilintar dan Nyala. Di luar Jawa, Parade Harahap mendirikan Benih Merdeka dan Sinar Merdeka pada tahun 1918 dan 1922 di Padang Sidempuang. Sedangkan di Padang berdiri majalah Jong Sumatera. Di berbagai tempat juga muncul nama – nama koran dan majalah seperti Hindia Sarekat, Koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, Oetoesan Melayu dan Peroebahan. Alat perjuangan melalui pena ini kiranya menjadi media yang sangat efektif menyulut rasa kebangsaan dan secara intelek membentuk idealisme di kalangan pemuda. Efektivitas “propaganda” melalui tulisan ini sesungguhnya amat aneh, mengingat hanya segelintir orang saja yang tahu tulis – baca pada waktu itu. Tetapi karena yang membaca saat itu adalah para pemuda yang “tepat”, maka nasionalisme yang ditelurkan oleh generasi pelopor seperti Dr. Soetomo, Dr. Cipto Mangunkusumo dan HOS Cokroaminoto dapat diwariskan secara kontinyu ke dalam dada generasi selanjutnya seperti Soekarno, Hatta dan pemuda-pemuda seangkatannya. Melalui tulisanlah, generasi pelopor “menebar pesona” bagi generasi selanjutnya. Melalui tulisan Hos Cokroaminoto di surat kabar Oetoesan Hindia, Soekarno tersodok nasionalismenya, sementara Abdul Muis, penulis novel Salah Asuhan yang sekaligus pegiat di majalah Hindia Sarekat, menjadi idola bagi pemuda Hatta. Walhasil, perjuangan melalui pena pula yang membuat banyak pejuang silih berganti masuk penjara dan diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda baik di dalam negeri (interniran) ataupun ke luar negeri (eksterniran).

Tajamnya pena para pejuang kita tentunya tidak datang begitu saja seandainya mereka miskin bacaan dan tumpul daya analisis. Walaupun teknologi percetakan saat itu masih terbilang sederhana, namun harus diakui pula bahwa sistem pendidikan bahasa di zaman Belanda cukup mapan. Sebagai gambaran, tamatan AMS (Algemene Middelbare School) untuk kelompok non – eksakta bisa dipastikan fasih berbahasa asing secara lisan dan tulisan. Tidak hanya bahasa Belanda, tetapi juga bahasa Inggris, Perancis, Jerman bahkan bahasa lain. Hal ini memungkinkan peserta didik dapat secara langsung mengakses ilmu dari buku-buku kelas dunia yang ditulis dalam bahasa aslinya tanpa harus diterjemahkan ke dalam bahasa ibu. Sampai di sini kita dapat menarik pelajaran bahwa idealisme, nasionalisme serta kreativitas para fouding father kita secara efektif terbentuk dari budaya literer atau budaya baca – tulis, serta penguasaan bahasa asing sebagai kunci pembuka berbagai literatur pergerakan politik dunia. Coba bayangkan seandainya para pejuang pelopor semacam Sutomo, Cipto mangunkusuno dan HOS Cokroaminoto atau Generasi 1908 tidak pernah menulis, menerbitkan koran dan memberi inspirasi melalui tulisan pada generasi selanjutnya. Besar kemungkinan, pergerakan nasional akan mati di tengah jalan. Tak akan ada Sukarno, sang singa podium yang berapi – api meneriakkan kata – kata aktif, dinamis, meraung menggeledak dan mengguntur, yang hendak menyeterika Amerika dan melinggis Inggris. Seandainya ia malas membaca, tak mungkin dia bisa menulis Pidato Pembelaan Indonesia Menggugat yang begitu tajam, serta paham marhaenisme sebagai gerakan berdikari dan marxsisme ala Indonesia, yang tentunya disadap dan disarikan dari buku Das Kapital Karl Marx. Coba bayangkan seandainya Hatta bukan predator buku yang pernah mengepak tiga puluh peti bukunya saat diasingkan ke Boven Digul. Tentunya tak akan ada pemilik pena tajam yang membuat telinga penguasa Hindia Belanda memerah dan tidak akan ada pemuda Indonesia yang pernah digelari Mahatma Gandhi Van Java. Bayangkan lagi seandainya Agus Salim pendek wawasan dan tidak fasih berbahasa asing. Tentunya diplomasi – diplomasi Indonesia dalam setiap perundingan akan tumpul. Dan praktis tidak akan ada deretan “revolusi indah” yang mulai terbentuk dari pergerakan pemuda 1908 dan Sumpah Pemuda 1928, yang mengantarkan Indonesia pada Proklamasi 1945. Jadi sangat sulit dibayangkan apa jadinya negeri ini jika para founding father tidak rakus membaca dan menulis? Akan tetapi jika kita arahkan kursor perhatian kita pada generasi masa kini, sangat sulit pula kita mempercayai bahwa di negeri ini pernah hidup manusia – manusia besar yang jatuh bangun dalam sejarah kemerdekaan dengan model perjuangan tulis baca. Bahkan kemunduran budaya literer sekarang ini terjadi justru pada saat semakin pesatnya kemajuan teknologi informasi.

Orde Baru dan Remah – Remahnya

Hal ini memang bukan kesalahan generasi masa kini sepenuhnya. Lunturnya warisan budaya tulis baca yang mengakibatkan memudarnya idealisme dan nasionalisme, sedikit banyak diakibatkan oleh kungkungan sistem pendidikan yang mengutamakan hapalan dan sistem politik yang mengekang kreativitas berpikir pada masa pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun. Adapun segelintir orang idealis dan kritis yang mungkin lebih kompeten untuk dilibatkan dalam persoalan pendidikan nasional saat itu, ditendang keluar dari tembok kekuasaan. Bahkan sampai sekarang, kita masih tetap hati – hati kerena remah – remah orde baru masih banyak yang tersisa, bahkan terkadang menjelma menjadi jamur segar, berupa orang-orang muda yang tetap berpikir dan bertindak seperti orang – orang tua di zaman Orde Baru.

Reformasi Bagi Perkembangan Literasi

Datangnya era reformasi bagi negeri yang budaya literernya sudah terlanjur mandek, akhirnya membuat kita gelagapan. Televisi yang mendangkalkan kreativitas lebih dicintai ketimbang buku yang menajamkan daya analisis. Era keterbukaan menyebabkan mereka yang sudah kehilangan idealisme dan nasionalisme menjadikan media massa sebagai ajang komersialisasi yang tidak jarang menanamkan racun pada generasi muda. Dunia pertelevisian tumbuh menjadi penyaji hiburan berbau pornografi, klenik dan kekerasan, serta mengajarkan, bahwa figur yang patut dicontoh adalah mereka yang berada dalam gelimang pesona hedonis. Hal ini telah menciptakan generasi yang lebih suka menonton ketimbang membaca, lebih suka berbicara ketimbang menulis, berpikir dangkal, cengeng, berwawasan sempit dan serba instan. Sampai – sampai almarhum Romo Mangunwijaya pernah mengatakan, bahwa, generasi muda kita lebih terbelakang dibanding generasi tahun dua delapan. Pengaruh televisi yang mendangkalkan kreativitas diamini oleh Mark Singer, guru besar dan pengamat media asal Amerika. Menurut hasil penelitian Singer, kebiasaan menonton televisi merupakan aktivitas pasif yang jika dilakukan dalam waktu lama (ekstensif), justru berpotensi meningkatkan trauma kejiwaan. Di samping itu, televisi juga sangat jarang dijadikan sarana pengembangan intelektual. Hasil survey majalah Tv Guide menyatakan, hanya ada 1 dari 10 orang pemirsa yang memosisikan televisi sebagai sarana intelektual, selebihnya mengatakan bahwa mereka menyaksikan televisi hanya sebagai pelarian atau hiburan untuk menghindar dari tekanan hidup. Dan perlu diketahui bahwa survey ini dilakukan pada responden yang 70 persen terdiri dari anak-anak di Amerika Serikat, negara yang budaya literernya sudah sedemikian maju. Bagaimana dengan Negara kita?

Budaya Paternalistik

Budaya tulis – baca pun tidak akan pernah berkembang di negeri yang terikat budaya patenalistik, dimana orang yang lebih tua selalu dijadikan figur bagi yang muda, kecuali bila ada kesadaran orang tua yang memulai terlebih dahulu. Kita mendapati keadaan, bahwa amat sulit bagi siswa atau mahasiswa untuk mencintai kegiatan tulis – baca karena bahkan dosen atau guru saja amat malas membaca, apalagi menulis. Tak bisa kita pungkiri, bahwa, kebanyakan guru dan dosen sekarang ini menjalani hidup dan “mental akademik”nya terbentuk di bawah hegemoni dan bendera pasif Orde Baru. Masalah penguasaan bahasa asing pun demikian. Sangat jarang kita menjumpai pengajar yang memang profesional dalam mengajarkan bahasa asing sehingga peserta didik dapat mempergunakannya secara aktif, baik lisan maupun tulisan. Kegagalan sekolah dalam pengajaran bahasa asing ini dapat dibuktikan dengan menjamurnya tempat kursus bahasa asing di mana – mana, padahal untuk tamatan sekolah menengah atas saja minimal telah mempelajari bahasa Inggris selama enam tahun.

Andrias Harefa, salah seorang pemerhati pendidikan, sampai mengatakan, bahwa munculnya tempat kursus bahasa asing di mana – mana merupakan ejekan bagi sekolah dan universitas yang tak mampu memfasilitasi peserta didik agar mahir berbahasa asing.

Sampailah kita pada sebuah kesimpulan bahwa budaya literer tulis – baca adalah budaya warisan para founding father, pendiri negara ini, yang perlu kita sadap kembali untuk kemudian dilestarikan dan dikembangkan. Karena kegiatan baca tulis menawarkan keluasan wawasan, kreativitas dan idealisme serta semangat nasionalisme untuk berbuat yang terbaik bagi negeri ini.

Bukankah amat ironis jika membludaknya informasi dari berbagai media seperti buku, majalah, koran dan internet malah membuat generasi muda kita pasif dan berwawasan sempit? Kita berharap semoga momen proklamasi yang ke 65 yang baru lalu, tidak sekedar menjadi momen “bernostalgia” dengan arwah – arwah para pahlawan bangsa, tetapi momen dimana kita mestinya menelaah kembali apa yang perlu kita lestarikan dan apa yang perlu kita benahi dari para pendahulu kita.

Sulit sekali kita bayangkan apa jadinya negeri ini jika pembenahan literasi tidak kita lakukan dari sekarang, khususnya oleh generasi muda yang belum banyak terkontaminasi oleh remah – remah masa lalu.

Sumber: Penulis –> Andi Amrang Amir, Editor –> Rakhmat Zaenal

 
Leave a comment

Posted by on April 11, 2011 in Artikel